GCatatan Gido
Flora-fauna endemik Nias: fauna khas & konservasi hutan

Hutan di Sekitar Gido dan Upaya Menjaga Fauna Khas Pulau Nias

Hutan sekitar Gido, Kabupaten Nias, menyimpan fauna khas Pulau Nias. Warga dan pemerintah berupaya menjaga ekosistem di tengah tekanan pembangunan.

Hutan di Sekitar Gido dan Upaya Menjaga Fauna Khas Pulau Nias

Sorotan Utama

  • Gido adalah kecamatan di Kabupaten Nias, Sumatera Utara, sekaligus ibu kota kabupaten, dengan luas 110,06 km² dan penduduk 23.518 jiwa pada 2021.
  • Kecamatan Gido berbatasan langsung dengan Kota Gunungsitoli dan menjadi lokasi Bandara Binaka, bandara utama Pulau Nias.
  • Kawasan hutan di sekitar Gido berfungsi sebagai penyangga ekosistem dan habitat berbagai satwa khas Nias.
  • Ancaman terhadap hutan datang dari pembukaan lahan, perluasan permukiman, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
  • Upaya konservasi melibatkan warga, pemerintah daerah, dan pendekatan adat setempat.

Hutan yang Menopang Kehidupan di Gido

Pagi di sekitar Jalan Raya Pelabuhan Udara, Gido, suara burung masih terdengar dari balik pepohonan yang mengelilingi Bandara Binaka. Bandara utama Pulau Nias ini berada di kecamatan Gido, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Sepanjang jalan menuju pusat kecamatan, hamparan hijau masih mendominasi lanskap. Gido sendiri merupakan ibu kota Kabupaten Nias, dengan luas 110,06 km² dan penduduk 23.518 jiwa pada 2021. Kepadatan sekitar 194,75 jiwa per km² menunjukkan wilayah ini tidak sepenuhnya kosong, namun masih menyisakan ruang bagi hutan dan kebun campuran.

Hutan di sekitar Gido bukan sekadar pemandangan. Kawasan ini berfungsi sebagai penyangga air, penahan tanah, dan rumah bagi berbagai satwa. Warga memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti rotan, madu, dan buah-buahan musiman. Beberapa petani di desa-desa sekitar masih membuka kebun secara berpindah dengan siklus yang lebih pendek dibandingkan masa lalu. Pola ini, meski terbatas, memengaruhi kondisi tutupan lahan.

Secara geografis, Gido berbatasan langsung dengan Kota Gunungsitoli. Posisi ini membuat Gido menjadi pintu masuk bagi orang yang baru tiba di Nias melalui udara. Tekanan pembangunan di sekitar bandara dan jalan utama terasa, terutama permintaan lahan untuk permukiman dan usaha. Di sisi lain, kesadaran warga tentang pentingnya menjaga hutan mulai tumbuh, sebagian karena pengalaman banjir dan longsor kecil yang pernah terjadi di beberapa titik.

Fauna Khas Nias yang Masih Bertahan

Pulau Nias memiliki sejumlah satwa khas yang tidak ditemukan di tempat lain. Beberapa di antaranya masih dapat dijumpai di hutan-hutan sekitar Gido dan kawasan Nias bagian utara. Burung seperti celepuk nias dan beberapa jenis burung madu menjadi indikator kesehatan hutan. Mamalia kecil seperti tikus hutan dan kelelawar juga berperan dalam penyebaran biji. Reptil seperti biawak dan ular tidak berbisa menghuni tepi hutan dan kebun.

Yang paling dikenal adalah keberadaan primata dan satwa arboreal lain yang bergantung pada pohon besar. Meski tidak semua dapat dilihat setiap hari, jejak aktivitas mereka seperti suara dan buah yang jatuh masih menjadi tanda bahwa hutan sekitar Gido belum sepenuhnya rusak. Warga di beberapa desa mengaku masih melihat kawanan burung berwarna cerah melintas di pagi hari. Namun, perjumpaan dengan satwa besar semakin jarang seiring menyusutnya pohon-pohon tua.

Penting dicatat bahwa tidak semua satwa yang disebut "khas Nias" berada di Gido. Beberapa hanya hidup di kawasan konservasi lain di Pulau Nias. Karena itu, upaya menjaga fauna di Gido lebih tepat dilihat sebagai bagian dari mozaik konservasi pulau, bukan klaim bahwa semua spesies endemik ada di sini. Pendataan yang lebih rinci masih dibutuhkan untuk mengetahui populasi dan sebaran pasti.

Upaya Warga dan Tantangan ke Depan

Di tingkat desa, beberapa kelompok tani dan pemuda mulai melakukan penanaman kembali pohon di lahan kritis. Jenis yang ditanam umumnya buah-buahan dan kayu-kayu lokal yang cepat tumbuh, sekaligus memberikan hasil ekonomi. Ada pula kesepakatan tidak tertulis untuk tidak menebang pohon di sempadan sungai dan mata air. Praktik ini sejalan dengan kearifan lokal yang menghormati hutan sebagai sumber kehidupan.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait melakukan penyuluhan dan pengawasan, meski sumber daya terbatas. Bandara Binaka di Gido, sebagai fasilitas vital, juga memiliki area penyangga yang dijaga dari gangguan. Namun, tantangan tetap ada: perluasan kebun, permintaan kayu untuk bahan bangunan, dan alih fungsi lahan untuk perumahan. Perubahan iklim turut memengaruhi pola hujan, yang berdampak pada hasil pertanian dan ketersediaan air.

Peluang konservasi di Gido terletak pada kombinasi antara penegakan aturan, insentif ekonomi bagi warga yang menjaga hutan, dan pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah. Ekowisata berbasis desa, seperti pengamatan burung dan trekking ringan, bisa menjadi alternatif pendapatan jika dikelola dengan baik. Namun, semua ini memerlukan data yang akurat dan partisipasi masyarakat. Tanpa itu, upaya menjaga fauna khas Nias di sekitar Gido akan berjalan lambat.

Pertanyaan Umum

Di mana letak Kecamatan Gido?

Gido berada di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, dan berbatasan langsung dengan Kota Gunungsitoli. Gido juga menjadi ibu kota Kabupaten Nias.

Apakah Bandara Binaka berada di Gido?

Ya. Bandara Binaka, bandara utama di Pulau Nias, terletak di Kecamatan Gido, tepatnya di Jalan Raya Pelabuhan Udara.

Fauna apa saja yang khas Pulau Nias?

Pulau Nias memiliki beberapa satwa khas seperti celepuk nias dan sejumlah jenis burung serta mamalia kecil. Namun, tidak semua satwa tersebut dapat dijumpai di Gido karena sebarannya terbatas di kawasan tertentu.

Apa ancaman utama bagi hutan di sekitar Gido?

Pembukaan lahan untuk kebun dan permukiman, penebangan kayu, serta perluasan infrastruktur menjadi tekanan utama. Perubahan iklim juga memengaruhi kondisi hutan dan sumber air.